Rabu, 27 Februari 2013

Tugas Tafsir Tarbawi QS. Al-Anbiya 60-61


Makalah Untuk UAS
PENDAHULUAN
Disaat kita dihadapi oleh beberapa masalah dalam kehidupan ini maka harus kita benahi apalagi kalau menyangkut masalah agama. Untuk menegakkan agama Allah itu tidak gampang seperti membalik telapak tangan, apalagi menyebar luaskan agama Allah (agama Islam) itu sangat sulit perlu pengorbanan baik lahir maupun batin. Pengorbanan dan perjuangan untuk merubah pemikiran suatu kaum tentang ketauhidan sangat dibutuhkan keberanian. Nah hal inilah yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS. Untuk itu hal itu menarik kita pelajari bagaimana perjuangan yang dilakukan oleh nabi Ibrahim AS. Disi kami mengkaji bagaimana nabi Ibrahim dituduh menghancurkan beberapa berhala, disini kami mengambil dasar yaitu: QS. Al-Anbiya 60-61. Semoga Allah memberkati kita Amin…
PEMBAHASAN
QS. Al-Anbiya: 60-61
 60.  Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala Ini yang bernama Ibrahim “.
61.  Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.
Tafsirnya
Kemudian bersumpahlah Ibrahim, bahwa dia akan melakukan sesuatu terhadap berhala-berhala itu, bila kaumnya keluar meninggalkan kota pada hari raya tertentu mereka. Maka takkala hari itu tiba dan kota itu kosong ditinggalkan penduduk-penduduknya, terutama disekitar tempat berhala-berhala itu, pergilah Ibrahim dengan membawa sebuah beliung menuju ke tempat berhala-berhala itu untuk melaksanakan sumpahnya menghancurkan berhala-berhala itu menjadi berpotong-potong,  kemudian menggantungkannya beliungnya pada leher berhala yang terbesar, induk dari berhala-berhala itu yang sengaja ditinggalkan utuh, untuk member kesan seakan-akan dialah yang menghancurkan semua berhala itu.
Maka ributlah kaum Ibrahim ketika mereka kembali dari pesta hari raya mereka dan melihat tuhan-tuhan mereka hancur menjadi berpotong-potong. Bertanya-tanya mereka satu dengan yang lain. “gerangan siapakah yang berani melakukan perbuatan keji ini terhadap tuhan-tuhan kami?” berkatalah seorang yang pernah mendengar sumpah Ibrahim, “kami mendengar seorang pemuda yang sering mencela dan mencemoohkan tuhan kami ini, ia bernama Ibrahim, mungkin sekali dialah yang melakukannya”.
“jika demikian hadapkanlah dia kemari!” kata pemuka-pemuka kaum Ibrahim. Dan ketika Ibrahim ditanya didepan orang banyak, “siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan kami, engkaukah wahai Ibrahim?”
Ibrahim menjawab, “sebenarnya berhala yang besar itulah yang melakukannya, tanyakan saja kepadanya jika ia dapat berbicara”.[1]
Ibrahim Menghancurkan Berhala
“Demi Allah.” (pankal ayat 57). Nabi Ibrahim telah mulai perkataannya dengan sumpah. Tandanya beliau berkata bersungguh-sungguh, bukan bermain-main. “akan aku lakukan suatu tipudaya terhadap berhala-berhala kamu itu, Sesudah kamu berpaling.” (ujung ayat 57). Artinya kalau kamu telah berpaling atau telah meninggalkan rumah tempat kamu mengumpulkan berhala itu. Saya akan melakukan perbuatan yang berupa tipudaya terhadapnya. Tetapi apa macamnya tipudaya yang akan dilakukannya itu tidaklah diberitahunya.
“lalu dia jadikan mereka berkeping-keping.” (pangkal ayat 58). Artinya, pada suatu ketika kaumnya menyembah berhala-berhala dedang tidak berkumpul menyembahnya di sana, karena sedang menghadapi urusan masing-masing atau sedang berada di rumah, Ibrahim masuk ke tempat pemujaan itu membawa alat untuk menghancurkan berhala-berhala itu; mengkin semacam kapak. Dicincangnya satu demi satu sehingga berkeping-keping. “kecuali berhala mereka yang besar.” Hanya satu saja, yaitu berhala yang paling besar yang tidak diapa-apakannya.
“Supaya mereka kembali kepadanya.” (ujung ayat 58). Artinya, kalau semua berhala dicincang dan dikeping-keping dan satu saja yang tinggal, yaitu yang paling besar tentulah sesudah keliling melihat yang hancur mereka akan kembali kepada yang tinggal satu itu. Ada tersebut di dalam riwayat yang disampaikan oleh as-Suddi dan Mujahid, bahwa berhala yang besar itu tidak dirusakkan oleh Ibrahim, tetapi kapak yang digunakannya buat menghancurkan berhala-berhala yang kecil-kecil itu digantungkannya di leher berhala besar  yang tidak dirusakkannya itu.
“Mereka bertanya: “Siapakah yang berbuat begini terhadap tuhan-tuhan kita?” (pangkal ayat 59). Artinya, setelah mereka melihat berhala-berhala yang mereka pertuhan itu telah jadi puing. Timbullah pernyataan siapa agaknya yang berbuat perbuatan keji ini; “Sesungguhnya dia adalah termasuk orang-orang zalim, tidak bertimbang rasa. Masakah tuhan-tuhan yang dipuja, dipuji dan disembah lalu dicincang dikeping-keping.
“Mereka menjawab:” (pangkal ayat 60). Yang menjawab pertanyaan ini ialah orang-orang yang berada di dekat tempat kejadian itu: “Kami mendengar Ibrahim.” (ujung ayat 60). Orang itu seorang anak muda yang banyak menyebut tentang berhala, mencela dan mencaci orang-orang yang memujanya. Dikatakannya bahwa menyembah berhala adalah suatu perbuatan yang bodoh. Dan pernah juga anak muda itu mengatakan bahwa dia bermaksud hendak membuat suatu tipudaya tentang berhala-berhala ini. Kata orang nama anak muda itu adalah Ibrahim!
“Mereka berkata:” (pangkal ayat 61). Yang berkata disini ialah pihak yang berkuasa dalam negeri, yaitu Raja Namrudz, dan orang besar-besarnya. “Maka bawalah dia di hadapan mata orang banyak.” Artinya carilah pemuda itu sampai dapat dan bawa kemari. Membawanya hendaklah disaksikan oleh orang banyak. Sebab kesalahan ini amat besar, sangat menyinggung kepada perasaan orang banyak. “Supaya mereka saksikan.” (ujung ayat 61).
Dari kedua ayat ini, ayat 60 dan 61 kita mendapat beberapa pelajaran. Pertama ialah tentang keadaan Nabi Ibrahim waktu menghancurkan berhala itu. Dia masih terhitung anak muda! Yang berani mengerjakan pekerjaan nekat begitu memang hanya anak muda.
Kita melihat didalam al-Quran beberapa kali cerita tentang pekerjaan penting yang dikerjakan oleh anak muda. Yang menyembunyikan diri kedalam al-Kahfi ialah beberapa orang anak muda karena keyakinan terhadap Allah yang berpegang kepada tauhid amat berlawan dengan kepercayaan kaunmnya yang mempersekutukan yang lain dengan Allah. Di dalam Surat 18 al-Kahfi,
Demikian pentingnya darah muda. Sehingga ibnu Abbas pernah berkata: “Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi melainkan anak muda. Dan seorang yang alim tidak pula diberi Allah ilmu melainkan di waktu muda.” Lalu beliau baca ayat 60 surat al-Anbiya ini sebagai alas an.
Inilah yang menimbulkan ilham pada segolongan ahli tashawuf untuk mengadakan gerakan “luttuwah”. Nabi Musa pun membawa anak muda bernama Yusya’ menjadi temannya pergi mencari Nabi Khidir, (al-Kahfi ayat 60). Yang dimaksud fata-hu ialah karena dididik akan jadi pengganti beliau nanti.[2]
 Nabi Ibrahim Berbohong?
Benarkah Nabi Ibrahim pernah berbohong? Secara prinsip agama, semua Nabi itu ma’shum (terjaga) dari perbuatan bohong. Mustahil para Nabi nota bene penyampai wahyu berbuat dusta, lalu apa kata kaumnya kalau Nabinya saja berdusta. Lantas, bagaimana dengan sebuah Hadis Sahih riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim yang merekam bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda: “La yakdzib Ibrahimu illa tsalatsa kadzabat (Nabi Ibrahim tidak pernah berbohong kecuali dalam tiga kasus); Pertama, perkataan Ibrahim: Bal fa’alahu kabiruhum hadza (Patung besar itu yang melakukannya) QS. al-Anbiya’: 63. Kedua, perkataan: Inni saqim (Sesungguhnya saya sakit) QS. ash-Shaffat: 89. Yang ketiga adalah perkataan Ibrahim tentang Saroh (istrinya) ketika ditanya oleh Raja yang lalim, ia menjawab: Hadzihi ukhti(dia adalah saudariku).”
Menurut para ulama, seperti Imam Ibnu Hajar al-’Asqalani (W. 852 H/ 1448 M) mengomentari hadis tersebut dalam kitabnya Fathul Bari Bisyarhi Shahihil Bukhari dan Imam an-Nawawi ( W. 676 H/ 1277 M) dalam kitabnya al-Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnul Hajjaj; Bahwa tiga perkataan Nabi Ibrahim tersebut merupakan bentuk Tauriyah (Hal menampakkan di luar yang dimaksudkan) dan hal itu bukanlah suatu kebohongan apabila tiga perkataan tersebut dipahami lebih dalam. Karena Nabi Ibrahim menyampaikannya dalam redaksi yang mengandung dua pengertian (maksud) dan apabila redaksi tersebut dipahami lebih dalam oleh pendengarnya maka akan diketahui bahwa Nabi Ibrahim tidaklah berbohong.
Maka menurut sebagian Ulama, takwil tiga perkataan Nabi Ibrahim itu adalah; Pertama, Bal fa’alahu kabiruhum hadza(Patung besar itu yang melakukannya) sebenarnya yang menghancurkan berhala-berhala yang kecil itu adalah patung yang paling besar karena sebab dialah aku (Ibrahim) melakukannya (isnad majazi). Kedua, Inni Saqimun (saya sakit) maksudnya aku akan sakit, karena setiap manusia akan mati, dan pada umumnya kematian didahului oleh sakit. Makna perkataan Ibrahim tersebut senada dengan firman Allah Innaka mayyitun wa innahum mayyitun (Sesungguhnya engkau [Muhammad] akan mati dan mereka juga akan mati) QS. az-Zumar: 30. Ketiga, Hadzihi ukhti (ini saudariku) maksudnya saudaraku dalam iman dan Islam (fil ukhuwwah al-Islamiyyah) bukan saudara dalam nasab. Karena apabila Nabi Ibrahim mengatakan hadzihi zaujati (ini adalah istriku) maka Saroh akan dirampas oleh Raja yang lalim. Wallahu A’lam bis Sowab.[3]
PENUTUP
 A.    Kesimpulan
Sebarkanlah kebenaran itu walaupun pahit atau tantangannya nyawa sekalipun. Karena mati dijalan Allah itu adalah sahid. Untuk itu melalui cerita Ibrahim diatas dapat kesimpulan yaitu berjihadlah pada jalan Allah. Semoga tulisan ini bermanfaat kepada pembaca maupun pemakalah sendiri. Amin…
  1. B.     Saran
Di dalam makalah ini mungkin masih terdapat berbagai kekurangan, untuk itu penulis minta maaf yang sebesar-besarnya. Untuk itu penulis minta saran dari kawan-kawan maupun dari dosen pembimbing untuk kesempurnaan dimasa yang akan datang.
DAFTAR PUSTAKA
Bahreisy Salim, Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid 5. Surabaya; PT. Bina Rmu, 1998. Hal 316-319
Hamka, Tafsir Al Azhar Juzu’ XVII. Jakarta; Pustaka Panjimas. Hal 62-66

[1] Bahreisy Salim, Terjemahan Singkat Tafsir Ibnu Katsier Jilid 5. Hal 316-319
[2] Hamka, Tafsir Al Azhar Juzu’ XVII. Hal 62-66

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar